Beranda Alam

Selamat datang di Matrapala's Blog. Bagi yang ingin mencurahkan segala isi hati maupun pikiran, silakan posting disini. Untuk kesulitan dan bantuan hubungi mahesa_na@yahoo.com

...:: seputar saya ::...

My Photo
Kami sekumpulan [dan mantan] anak dengan keinginan dan kemauan yang sama: menikmati, berbagi dan menjaga keindahan alam.

Friday, December 24, 2010

Etika

Kegiatan seorang pencinta alam tidak terpisahkan dari lingkungan karena sebagian besar atau bahkan seluruh kegiatan pencinta alam berkaitan dengan lingkungan baik itu lingkungan hutan, gunung, gua, sungai, tebing dan lain-lain. Kegiatan tersebut merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya.

Kegiatan kepencintaalaman tersebut pada masa sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang cukup populer sehingga banyak orang yang ikut serta dan turut menggemarinya. Akan tetapi sekedar gemar saja tidak cukup. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kejadian semakin rusaknya alam akibat dari kegiatan yang mengatasnamakan kecintaannya terhadap alam dan juga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti misalnya pendakian gunung, penelusuran gua, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain.

Kecelakaan ini bukanlah disebabkan alam yang kejam dan tidak terkuasai, tetapi lebih banyak tergantung pada para pencinta alam itu sendiri.

Demikianlah, kecintaalam tidak hanya menuntut minat dan semangat, namun juga yang terpenting adalah pengetahuan tentang alam dan lingkungannya, keter yang berupa perjalanan alam bebas atau ekspedisi tersebut, seorang pencinta alam harus membekali diri. Bekal tersebut berupa :

1. Mental. Seorang pencinta alam harus tabah menghadapi berbagai kesulitan di alam terbuka tidak mudah putus asa, dan berani. Berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kemudian mengatasinya dengan cara bijaksana dan benar mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.

2. Teknik hidup alam bebas. Meliputi tali temali, PPPK, Metode komunikasi, perkemahan dan bivak, Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Penelusuran Gua, Penelusuran Sungai dan SAR.

3. Fisik yang memadai. Karena kegiatan kepencintaalaman termasuk olahraga yang cukup berat dan seringkali tergantung kepada kemampuan fisik, maka setiap pencinta alam harus memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menghadapi dan melaksanakan setiap kegiatan tersebut.

4. Etika. Seorang pencinta alam adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku. Dalam setiap tindakan, seorang pencinta alam diharapkan menghargai kaidah, hukum dan norma masyarakat itu. Demikian sehingga terdapat kode etik pencinta alam yang akan memberikan pedoman sikap pencinta alam.

5. Kesadaran konservasi. Dengan memiliki bekal ini, seorang pencinta alam seharusnya sadar bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Tetapi lebih dari itu, dia dituntut untuk mengutamakan perlindungan dan pelestariannya.

Etika Berkelana di Rimba Raya

Lokasi rimba raya yang menjadi sasaran kegiatan berkelana biasanya jauh dari tempat pemukiman. Rimba raya di Indonesia terwujud dalam berbagai bentuk ekosistem. Diantaranya adalah ekosistem hutan pegunungan, hutan berbukit-bukit, hutan dataran rendah, hutan savana, hutan pantai dan hutan tanah gambut. Sebaiknya kita tidak melaksanakan perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan persiapan perencanaan yang memadai. Agar rencana perjalanan berjalan dengan lancar, selamat dan sukses, terlebih dahulu harus diketahui hal-hal yang boleh dilakukan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan yang akan dihadapi, tindakan pada waktu tersesat, perlengkapan yang harus dibawa dan lain-lain.

Pengelana yang bertanggung jawab tidak akan melakukan :

· Menyalakan api secara tidak dikendalikan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan
· Merusak tanda-tanda di lapangan, baik tanda-tanda lalu lintas, tanda larangan dan penjelasan tentang obyek-obyek
· Tidak merusak sarana dan prasarana wisata yang ada
· Tidak mengganggu unsur-unsur habitat dan satwa khas yang ada
· Tidak melakukan keisengan-keisengan yang dapat menyusahkan/mencelakakan orang lain (memasang petasan, jebakan dan lain-lain)
· Tidak membuat corat-coret pada pohon-pohon dan batu-batuan
· Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang kurang terpuji (menurut norma agama dan adat istiadat)
· Tidak membuang sampah sembarangan, sedapat mungkin dibawa pulang
· Tidak melakukan perburuan satwa, apalagi yang dilindungi
· Tidak merusak tumbuhan dan batuan dengan coretan cat atau menorehnya dengan pisau
· Kurangi sedapat mungkin penebangan/pemotongan pohon dan belukar
· Pada keadaan darurat (tersesat, kecelakaan, perbekalan habis, dan lain-lain) jangan panik. Lakukan prosedur-prosedur yang diperlukan dan cari pertolongan secepatnya

Etika dalam Mendaki Gunung

Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju sebuah gunung, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan.

Ketika anda merencanakan untuk menaiki sebuah gunung yang cukup sulit, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya. Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan rute yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan.

Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan. Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya.

Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan respect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Demi keselamatan pengunjung dan kelestarian alam, pendaki hendaknya mematuhi kewajiban sebagai berikut :

1. Sebelum melakukan pendakian, calon pendaki diwajibkan melapor ke pos jaga terakhir, untuk dilihat apakah persyaratan pendakian telah dipenuhi atau belum
2. Pendaki juga diwajibkan melapor ke perangkat desa (terakhir) di rute perjalanan
3. Setelah pendakian, pendaki diwajibkan lapor ke pemberi izin, untuk memastikan ada tidaknya pendaki yang terlambat turun
4. Pendaki diwajibkan memperhatikan kebiasaan dan adat istiadat setempat (pakaian, hal-hal yang ditabukan dan lain-lain)
5. Bila terjadi musibah agar segera ke pos kehutanan dan atau aparat pemerintah setempat
6. Yakinkan bahwa bekas api unggun telah benar-benar padam sebelum ditinggalkan
7. Pendaki agar mempunyai asuransi kecelakaan diri
8. Larangan

Untuk berhasilnya suatu pendakian, agar diperhatikan larangan-larangan sebagai berikut:

· Dilarang keras membawa obor sebagai alat penerangan (pada pendakian malam hari), agar tercegah kebakaran. Sebagai gantinya dapat digunakan senter.
· Dilarang membuang benda yang mengandung api (misalnya puntung rokok) selama pendakian
· Dilarang mempergunakan kayu untuk keperluan apapun (api unggun, masak, tongkat).
· Dilarang mengambil tumbuhan dan binatang, telur atau sarang apapun, terutama bila gunung yang didaki termasuk kawasan konservasi (cagar alam, taman nasional).
· Dilarang membuat kegaduhan (berbicara keras, membunyikan alat musik) yang dapat mengganggu kehidupan satwa dan pendaki lain.
· Dilarang membuang sampah apapun (kertas, plastik, kaleng). Benda-benda tersebut harus diangkut kembali ke bawah.
· Dilarang mencemari lingkungan, termasuk mencoret-coret batu, kulit/akar/daun pohon
· Dilarang melakukan tindakan apapun yang dapat mengganggu keaslian alam.
Semarang - Matrapala telah mengadakan Basic Training Keahlian Dasar (BTKD) bagi calon Anggota Muda Matrapala. Rangkaian kegiatan dimulai pada tanggal 11 - 12 Desember 2010 berupa pemberian materi dasar dalam ruangan. Materi yang diberikan antara lain dasar-dasar organisasi, P3K, navigasi darat, rock climbing dan masih banyak lagi yang lainnya.
Peserta yang hadir tercatat 9 orang dari 14 yang mendaftar. Kesemuanya mengikuti materi ruangan dengan penuh perhatian. Selain dari pengurus harian Matrapala, pengisi materi juga dibantu oleh angkatan senior yang kebetulan diundang.


Setelah pemberian materi ruang rangkaian BTKD selanjutnya adalah simulasi lapangan. Simulasi kali ini diadakan di gunung Ungaran (2050 mdpl) selama 3 hari. Peserta diberangkatkan dari kampus Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pada hari Jumat 17 Desember 2010 menuju Sumowono. Dari terminal Sumowono perjalanan dilanjutkan ke Barak Militer, Bantir dengan berjalan kaki. Di Bantir peserta mempraktekkan cara mendirikan bivak dan acara ramah tamah.
Mau tahu acara selanjutnya? Tunggu catatan perjalanan dari Anggota Muda Matrapala 2010 ya..



.

Sunday, May 16, 2010

Revisi Juknis Pendakian Gede Pangrango (Pendampingan)

1. Tes Tertulis
Sebelum melaksanakan pendakian, para calon pendaki diwajibkan untuk mengikuti tes tertulis tentang pengetahuan pendakian di Visitor Center dan atau Information Center BBTNGGP. Apabila dari hasil tes tersebut calon pendaki dinyatakan tidak lulus maka yang bersangkutan tidak diperbolehkan melakukan pendakian pada saat itu.

2. Pendampingan

2.a. Wajib Pendampingan
Pendampingan baik dilakukan dengan porter, pemandu maupun interpreter wajib untuk Wisatawan Mancanegara/ WNA dengan pendamping yang berasal dari Forum Interpreter dan atau Pemandu yang memiliki lisensi TNGGP.
Wisatawan Nusantara (Pendaki Indonesia /WNI) wajib didampingai apabila tidak sesuai standard pendakian TNGGP.

2. b. Tidak Wajib Pendampingan
Wisatawan Nusantara (Pendaki Indonesia/WNI) tidak wajib pendampingan apabila :

a. Pecinta Alam dengan surat organisasi Pencinta Alam,
b. Pelajarberkualifikasi Pencinta Alam dengan surat lembaga pendidikan, dan
c. Pecintaalam independen atau Perseorangan, dengan bukti keanggotaan atau pengalaman berstandar pendakian gunung.

2.c. Standarisi Organisasi/Kelompok Pencinta Alam
Organisasi/Kelompok Pecinta Alam yang telah mengadakan Pendidikan Pecinta Alam dengan materi antara lain :
a. Lingkungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
b. Peta dan Kompas
c. Survival
d. Menggunakan Peralatan Standard Pendakian .

2.d. Standarisasi Pendaki Indipendent atau Perseorangan
a. Lingkungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
b. Peta dan Kompas
c. Survival
d. Menggunakan Peralatan Standard Pendakian.

2.e. Penentuan Wajib /Tidak Wajib Pendampingan
Penetapan wajib pendampingan atau tidak pendampingan dilakukan oleh petugas Piket Pelayanan Pendakian BBTNGGP, dengan pertimbangan:

1.Ada atau tidaknya surat dari Organisasi/Lembaga Pendidikan yang menyatakan kualifikasi Pencinta Alam atau bukti keanggotaan/pengalaman berstandar pendakian gunung;
2.Siap memakai/membawa peralatan Standard Pendakian
yang tercantum pada Bab VI bagian B
3.Membawa kantong sampah /trash bag masing-masing;
4.Belum pernah melanggar aturan pendakian.


Berikut ini link untuk mendownload lebih lengkap mengenai JUKNIS ini :
http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2010/04/juknis-pendakian-revisi-20102.pdf

Pemberlakuan Booking Online di TNGGP :
http://gedepangrango.org/pemberlakuan-booking-online-di-tnggp/

Bila ingin mencoba quiz yang dikeluarkan oleh TNGGP, klik link dibawah ini :
http://booking.gedepangrango.org/quiz/quiz.php?quiz=1&


Semoga informasi ini berguna, terutama untuk rekan-rekan yang berdomisili jauh dari kawasan TNGGP.


Salam Rimba
Terima kasih

Wednesday, December 16, 2009

Jalan-jalan ke Badui

'Neng Badui wae yo!'
Kira-kira begitu isi sms yang aku kirimkan ke Fransiska Arnoldi (M - 117 - AN) ketika saya membalas sms dia.

Perjalanan dimulai
Hari Jumat (4/12), kami menuju stasiun Bekasi dengan angkutan kota. Sampai di stasiun sekitar pukul duabelas. Tiket KRL AC ekonomi kami beli dengan harga 4.500 rupiah dengan tujuan Stasiun Kota (Jakarta). Suasana di kereta cukup nyaman. Pendingin ruangan cukup terasa dingin di cuaca kota yang panas. Penumpang tidak begitu ramai kala itu. Sayang tidak ada penjual yang boleh masuk ke dalam kereta. Dua jam kemudian kami tiba di Stasiun Kota.
Ketinggalan kereta
Sesampainya di Stasiun Kota kami langsung menuju loket karcis. Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan menuju Serang dengan menaiki kereta jurusan Merak. Ternyata kereta terakhir menuju Merak telah berangkat pukul satu. Terpaksa kami pakai rencana cadangan.
Setelah tanya kepada Moncos dan Geppy, kami memutuskan untuk naik bis pada perjalanan selanjutnya. Saya bertanya kepada petugas PKD di stasiun "Kalau mau naik bis jurusan Merak lewat mana ya pak?" Beliau menyarankan kami untuk naik angkot ke terminal Tanjung Priok. Dari depan stasiun langsung kami naik angkot jurusan Priok dengan membayar @3500. Perjalanan ke Terminal Tanjung Priok memakan waktu kurang lebih satu jam.
Dari Terminal Tanjung Priok kami langsung menaiki Bis Arimbi jurusan Merak menuju Serang. Perjalanan dengan bis ini memakan waktu kurang lebih 2,5 jam dengan tarif 17.000 rupiah per orang.
Serang
Menjelang magrib kami tiba di Terminal Bis Serang. Lalu saya menghubungi Moncos. "Jalan ke kiri, Kampus Untirta, tunggu di halte bis" Kira-kira begitu jawaban yang saya terima. Kemudian kami jalan menuju halte bis untirta. Tidak lama kemudian nongollah orang yang namanya Moncos ^^,
Kami langsung diajak makan malam di kantin samping kampus (tumben baik yah :D) Lumayanlah, buat ngisi perut. Bakso dengan ketupat rasanya jadi makanan paling enak saat itu. Pemandangan mahasiswa Untirta lumayan jadi pengobat lelah kami (terutama si Frans, ngebet!) Kami akhirnya memutuskan untuk menginap semalam di kos Moncos untuk beristirahat.
Begitu sampai di kos, Frans mengambil posisi tidur!
Pukul enam pagi kami sudah siap melanjutkan perjalanan ke Badui. Kali ini ditemani Moncos. Kereta dari Serang menuju Rangkas bitung berangkat pukul tujuh pagi. Tiket dibandrol dengan harga 4.500 rupiah. Ketika menunggu kereta datang kami bertemu dengan Mapala Universitas Untirta ( Mapalaut ). Kebetulan mereka juga akan menuju ke Badui. Ihiiiir, ada barengan juga. Cewek lagi! Setelah berkenalan sebentar akhirnya kami berangkat bersama.
Rangkas Bitung - Ciboleger
Satu jam kemudian kami sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Dengan menaiki angkot warna biru kamu menuju curug dengan ongkos @3.000, mampir dulu ke rumah Djati Suwarsono ( M - 002 - AC ) di komplek perumahan LPMP. Senang rasanya bisa bertukar cerita dengan beliau. Kayak tamu besar saja rupanya, suguhan takberhenti mengalir (makan terus!). Kami juga sempat berfoto bersama.
Pukul duabelas kami melanjutkan perjalanan menuju terminal Aweh (e pada bebek) dengan menaiki angkot yang sama dan tarif lebih murah seribu (nawar nulu soalnya). Dari terminal ini kami naik angkutan (elf) menuju Ciboleger). Ongkos per orang 12.000 rupiah. Perjalanan kurang lebih satu jam. Sampai di Ciboleger kami kehujanan. Basah!
Ciboleger - Badui
Perjalanan dilanjutkan. Pukul empat lebih tigapuluh menit kami berangkat dengan ditemani orang Badui dalam. Jalan yang dilalui cukup licin walaupun sudah ada jalan setapak dengan susunan batu tertata apik. Kami menyeberangi beberapa sungai yang meluap karena hujan tanpa jembatan. Satu jam kemudian kami memasuki kawasan Badui Luar. Karena hari semakin gelap kami lanjutkan saja perjalanan.
Kali ini jalan sudah berupa tanah merah basah yang terasa berat dengan medan yang naik-turun. Berbukit-bukit. Sandal kami terasa tebal karena tanah yang menempel.
Pukul setengah delapan kami tiba di Badui Dalam. Suasana hening dan gelap adalah kesan pertama yang kami rasakan setibanya di sana.
Makan malam sudah disiapkan panitia kegiatan (Mapalaut) jadi kami tinggal makan. Setelah makan malam dan sedikit berbincang dan menghabiskan beberapa batang rokok akhirnya Frans berangkat tidur. Saya yang kebetulan susah tidur mengambil rokok dan ikut begadang dengan teman-teman yang lain di pondok pemuda. Kopi panas, rokok, bulan terang dan perbincangan menemani kami hingga larut. Kami berdiskusi tentang segala macam, dari pendakian hingga kebudayaan Badui dalam. Pukul dua dini hari kami beristirahat.
Keesokannya
Kami bangun cukup pagi (tidak seperti biasanya). Sebagian mandi di sungai sekitar desa sebagian lagi memasak dan sebagian lagi berbelanja oleh-oleh khas Badui dalam. Ada golok yang lumayan tajam dijual dengan harga 20-30 ribu. Ada gelang rotan dan anyaman tas.
Pukul sebelas kami pulang ke Ciboleger. Di tengah perjalanan kami ditemani hujan yang cukup deras hingga ke desa Ciboleger.
Kami berpapasan dengan gadis desa yang masih lugu dan pemalu pulang dari ladang. Mereka mengenakan baju hitam dengan topi caping di kepala mereka.
Pulang
Dari Ciboleger rombongan sudah ditunggu bis kampus Untirta. Dua jam kemudian kami sampai di kampus Untirta. Setelahnya acara bebas...

Estimasi pengeluaran
Semarang - Senen : Rp 30.000,- *Kereta ekonomi
Senen - Kota : Rp 4.500,- * KRL Jabotabek
Kota - Merak : Rp 2.000,- * Merak Express turun RangkasBitung

Rangkas - Aweh : Rp 3.000,-
Aweh - Ciboleger : Rp 12.000,-

-Sebaiknya perjalanan menuju Badui Dalam dilakukan pada pagi atau siang hari.
-Untuk makanan kita selama di Badui Dalam sebaiknya kita membawa sendiri. Ketika waktunya makan nanti perbekalan kita satu kali waktu makan kita serahkan kepada tuan rumah dan kita meminta tolong untuk dimasakkan.
-Tamu hanya boleh menginap selama satu malam saja. Jika menghendaki lebih lama maka Anda dianjurkan untuk berpindah-pindah desa. Ada kurang lebih 40 desa.
-Tuan rumah tidak pergi ke ladang selagi mereka kedatangan tamu. Mereka lebih menghormati tamu mereka ketimbang pergi berladang.
-Patuhi peraturan mereka!
-Alat elektronik, kamera dan musik tidak diperkenankan di kawasan Badui Dalam.